Kalian ingin tahu apa jalan keluarnya? Baiklah, biar kuberitahu satu rahasia. Satu saja ya. Menulislah. Saat kau tak menemukan telinga untuk mendengar, menulislah. Saat kau punya pertanyaan yang terus menerus berkelebat di kepalamu, menulislah. Saat kau ingin marah dan melampiaskan amarah yang bergejolak di dadamu, menulislah. Tulis saja di tempat manapun yang kau suka. Entah itu di media jejaring sosial seperti Facebook, entah itu di note ponselmu, di aplikasi berwarna oranye bernama wattpad, atau mungkin di aplikasi untuk mengeluh seperti Twitter. Kau punya banyak tempat untuk menuliskan apapun yang sedang kau rasa.
Jika ada yang bertanya padaku, apa hobimu? Maka dengan senang hati akan aku jawab,
"Menulis."
"Hanya itu?"
"Dan membaca."
"Sudah? Kau hanya punya dua hobi?"
"Ada lagi. Mendengarkan keluh kesah orang-orang disekitarku. Juga memahami orang lain."
Setelah kupikir ulang, poin ketiga tidaklah benar. Itu bukan hobiku, melainkan kebiasaan yang selalu aku lakukan selama ini. Dunia ini dihuni oleh beragam sifat manusia yang tentu saja berbeda-beda. Kau tak akan bisa memukul rata atau menyamaratakan satu orang dengan yang lain. Saat kau ingin menangis, ya sudah menangis saja. Kau hobi memasak, ya memasak saja. Belilah bahan-bahan di minimarket, siapkan resep, lalu silakan bereksperimen. Kau hobi memancing, ikan-ikan di luar sana sudah menunggu umpanmu. Kau hobi melukis, ayo gerakkan kuas itu sesuai imajinasi yang tertanam di otakmu. Kau hobi mengejek orang, oh ayolah itu bukan hobi yang benar. Siapapun yang punya hobi seperti itu, kusarankan untuk mencari hobi lain. Tanyakan padaku jika kau membutuhkan saran hobi.
Sepertiku yang hobi menulis dan membaca, kau juga carilah hobimu. Tekuni itu, yaaa aku tahu, menekuni sesuatu dan konsisten atas apa yang sudah dimulai memang tidak mudah. Tapi jangan pernah berhenti untuk melakukan hal yang kau suka.
Apa kau ingin tahu mengapa aku hobi menulis? Sederhana saja, kita sebagai manusia tidak punya kuasa untuk menentukan jalan hidup seperti yang kita inginkan bukan? Karena itu aku menulis. Saat aku menulis, aku bisa menentukan sendiri jalan cerita seperti apa yang aku inginkan. Aku punya kuasa untuk memutuskan ingin dibuat apa cerita itu. Hal-hal yang tidak bisa kudapatkan di kehidupan nyata, maka telah aku wujudkan pada karakter di dalam cerita yang kubuat. Hei hei, tunggu dulu! Yang kumaksud dengan hobi menulis, bukan lah menulis dengan pena di atas kertas. Melainkan menggunakan laptop atau ponsel.
Jika kau bertanya mengapa aku hobi membaca, sederhana saja. Dengan membaca, aku bisa mengenal banyak karakter. Aku bisa masuk ke dalam cerita itu seolah-olah berada di dalamnya. Menyaksikannya secara langsung dan merasakan setiap perasaan yang dirasakan oleh para tokoh. Terdengar klasik bukan? Tapi itulah kenyataannya. Hanya dengan membaca, kau bisa mengerti akan banyak hal. Percayalah, ada banyak hal-hal baru yang tidak akan kau temukan saat membaca.
Yang kau lihat di atas itu adalah salah satu buku yang berdiri rapi di rak bukuku. Buku yang mengajariku banyak hal. Membuatku mengerti akan banyak hal baru. Setiap membaca penggalan kata yang tertera di buku itu, kau pasti akan semakin tenggelam. Tenggelam dalam kebenaran yang selama ini tak bisa kau katakan, namun dengan begitu mudahnya semua yang tertulis di dalam buku itu mewakili perasaanmu.
Gambar di atas juga salah satu buku koleksiku. Jika kau sedang membaca ini, maka ingatlah ini baik-baik. Seperti hujan yang tidak butuh alasan untuk jatuh, kau juga tidak butuh alasan apapun untuk tetap menekuni hobimu. Selama itu baik, ya kenapa tidak? Kau tidak perlu memikirkan pendapat orang lain tentangmu. Kenapa? Karena kau hidup bukan untuk orang lain. Bukan untuk memikirkan berbagai kalimat ejekan dari orang lain. Kau hidup karena Tuhan menciptakanmu untuk hidup. Teruslah berada di jalan kebaikan. Percayalah kalau suatu hari nanti, kau akan menjadi orang yang sukses dan berhati baik. Jadi, teruslah berkarya. Kejar mimpimu. Teruslah berdoa. Perjuangkan apapun yang layak untuk diperjuangkan.
Siapa yang tidak tahu dengan tari gandrung? Tari Gandrung merupakan salah satu bentuk kebudayaan dari Suku Osing yang merupakan penduduk asli Banyuwangi. Dalam pertunjukkannya, tari Gandrung Banyuwangi diiringi oleh musik khas daerah Banyuwangi bernama Gamelan Osing. Dilansir dari situs Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, tarian Gandrung Banyuwangi pada awalnya dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat pasca dilakukan panen. Biasanya disuguhkan dalam berbagai acara seperti menyambut musim panen raya, resepsi pernikahan, atau khitanan. Tarian Gandrung terus berkembang di wilayah Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat.
Gandrung pun sudah menjadi ikon Banyuwangi Saat memasuki Kabupaten Banyuwangi dan arah utara maupun barat, pengunjung akan disapa "penari" Gandrung dalam sosok patung yang besar. karena tarian ini pulalah, Banyuwangi juga di juluki sebagai Kota Gandrung. Masyarakat yang memiliki peradaban tinggi seringkali diidentikan dengan masyarakat yang mampu menciptakan serta merawat tradisi dan budaya yang dihasilkan. Dalam perkembangannya, sebagai tarian klasik Tari Gandrung ini masih tetap hidup dan dilestarikan di Banyuwangi. Tidak hanya peran dari seniman saja, bahkan masyarakat dan pemerintah daerah mendukung penuh pelestarian Tari Gandrung ini.
Pada bagian tubuh atas, penari menggunakan baju yang berbentuk seperti kemben berwarna hitam yang terbuat dari beludru dan kain diikat di leher menutupi dada yang dihiasi ornament berwarna emas. Lalu pada bagian bawah penari menggunakan kain batik khas Banyuwangi panjang sampai bagian atas mata kaki. Dan pada bagian kepala penari menggunakan mahkota dengan berbagai ornament berwarna merah dan emas yang disebut omprok. Selain itu juga berbagai asesoris seperti kelat pada tangan, selendang yang dikenakan dibahu dan pada bagian pinggang diberi ikat pinggang dan sembong yang dihiasi warna emas. Tidak lupa tata rias khusus yang membuat penari terlihat cantik dan sesuai dengan busana yang dikenakan.













