When Night Comes


Malam identik dengan gelap. Malam identik dengan sunyi. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh sebagian orang. Tapi bagiku, malam adalah waktu yang paling kutunggu-tunggu. Segala topeng yang dipakai sejak fajar menyingsing, saat malam tiba topeng tersebut mulai terlepas. Wajah asli setiap manusia akan terlihat kala malam datang. Tanpa seorangpun tahu, dinding kamar yang begitu keras menjadi saksi bisu akan rapuhnya setiap insan. Televisi yang dibiarkan menyala tak pernah mengeluh meski sang pemilik telah tertidur lelap tanpa sengaja. Guling yang selalu didekap erat pun, tak pernah melayangkan protes. Pikirnya, sang pemilik pasti telah melewati hari yang berat.

Sebelum kau membaca ini sampai selesai, putarlah musik yang kau suka. Tentunya musik yang bisa membuatmu tenang. Entah itu Day & Night milik Jung Seung Hwan. Atau Sauqbilu ya khaliqi, antassalam, dan syaikhona. Tak ada yang bisa menjamin jika saat gelap, yang sejak pagi tegar dan kuat akan tetap sama. Sama seperti matahari yang bersinar terik sejak pagi hingga menjelang senja, bukankah hujan kerap kali datang dan tiba-tiba turun kala malam datang? Begitu pula dengan manusia. Tuhan tak pernah janji langit selalu biru, tetapi dia berjanji selalu menyertai.

Pernahkah kalian mendengar penggalan lagu yang bunyinya seperti ini, "Tuhan tak pernah janji jalan selalu rata, tetapi dia berjanji berikan kekuatan." Hidup kita juga begitu. Kita tak akan selamanya tertawa, tak selamanya bahagia, tak selamanya segalanya mudah dan indah. Tapi kita juga tak akan selamanya menderita. Tak akan selamanya jatuh dan kecewa.


Kau pasti sering memandang lampu-lampu yang tersebar di jalan raya. Apa kali ini kau sedang berpikir mengapa aku bisa tahu? Haha, itu karena aku juga melakukannya. Jika kau setuju padaku bahwa malam adalah waktu yang tepat untuk merenung, maka anggukan kepalamu. Semua manusia pernah berada pada posisi putus asa dan tak tahu lagi harus melakukan apa. Tapi percayalah, Tuhan lebih dekat dengan urat lehermu. Tuhan tahu akan setiap usaha yang telah kau lakukan. Sungguh, Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu seorang diri. Kau tak perlu percaya padaku, cukup percaya saja pada Tuhan sang pemilik alam raya.

Kita hidup untuk diuji. Manusia hidup untuk diuji. Perasaan jenuh, lelah, dan berbagai masalah yang menghampiri, itu adalah hal yang wajar. Meskipun kadang kau merasa kesepian, tak ada satupun yang bisa mengerti dan menemanimu. Maka cobalah untuk meyakini satu hal ini, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya seorang diri. Tugas kita sebagai manusia hanya berserah diri kepada-Nya dan terus bergantung kepada-Nya. Bukan kepada manusia. Ingat, bukan kepada manusia.


Tak apa, tak perlu memaksakan diri untuk selalu baik-baik saja. Sungguh tak apa. Kau tidak berkewajiban untuk melakukan itu. Kau tidak diwajibkan untuk selalu baik-baik saja, tidak. Seharian penuh kau telah menunjukkan raut wajah bahagia, senyum lebar, dan renyahnya canda tawa. Sekarang sudah malam, kau bisa menunjukkan ekspresi yang sejak pagi kau tahan. Kau bisa melepas segala topeng yang membuatmu berpura-pura. Lepaskan saja. Biarkan dinding kamarmu yang menjadi saksinya. Kau ingin mengeluh? Silahkan. Kau ingin menangis? Silahkan. Kau boleh melakukan itu.

Mungkin malammu dihabiskan dengan merenung. Memikirkan banyak hal yang bercabang. Tidak tahu apa tapi tetap saja merangsek masuk ke kepala. Memaksa dipikirkan meski tidak tahu apa yang sebenarnya mau dipikirkan. Sambil membaca ini, mungkin saja sekarang kau sedang menyangga wajahmu dengan sebelah tangan. Atau menempelkan pipi kananmu dengan lengan kanan. Sembari memutar musik yang terus mendayun lembut, kuharap kau tak lupa memberi waktu untuk menyayangi diri sendiri. 

Hei, ingat ini baik-baik. Kau.. pasti akan baik-baik saja. Kau akan bahagia. Segala usaha yang telah dikerahkan hingga saat ini, tak akan pernah sia-sia. Aku ingin bilang, terima kasih karena sudah bertahan hidup hingga detik ini. Kau hebat.

0 Responses